RSS

Burung sayap sebelah

10 Jul

sumber : Gede Prana

Seorang teman dengan potensi tinggi, mengeluh berat setelah pindah-pindah kerja di lebih dari lima tempat. Tadinya, saya fikir ia mencari penghasilan yang lebih tinggi. Setelah mendengarkan dengan penuh empati, rekan ini rupanya mengalami kesulitan dengan lingkungan kerja. Di semua tempat kerja sebelumnya, dia selalu bertemu dengan orang yang tidak cocok. Di sini tidak cocok dengan atasan, di situ bentrok dengan rekan sejawat, di tempat lain malah diprotes bawahan.
Kalau rekan di atas berhobi pindah-pindah kerja, seorang sahabat saya yang lain punya pengalaman yang lain lagi. Setelah berganti istri sejumlah tiga kali, dengan berbagai alasan yang berbau tidak cocok, ia kemudian merasa capek dengan kegiatan berganti-ganti pasangan ini.
Seorang pengusaha berhasil punya pengalaman lain lagi. Setiap kali menerima orang baru sebagai pimpinan puncak, ia senantiasa semangat dan penuh optimis. Seolah-olah orang baru yang datang pasti bisa menyelesaikan semua masalah. Akan tetapi, begitu orang baru ini berumur kerja lebih dari satu tahun, maka mulailah kelihatan busuk-busuknya. Dan ia pun mulai capek dengan kegiatan berganti-ganti pimpinan puncak ini.
Digabung menjadi satu, seluruh cerita ini menunjukkan bahwa kalaumotif kita mencari pasangan – entah pasangan hidup maupun pasangan kerja – adalah mencari orang yang cocok di semua bidang, sebaiknya dilupakan saja.

Bercermin dari semua inilah, maka sering kali saya ungkapkan di depan lebih dari ratusan forum, bahwa fundamen paling dasar dari manajemen sumber daya manusia adalah manajemen perbedaan. Yang mencakup dua hal mendasar : menerima perbedaan dan mentransformasikan perbedaan sebagai kekayaan.

Sayangnya, kendati idenya sederhana, namun implementasinya memerlukan upaya yang tidak kecil. Ini bisa terjadi, karena tidak sedikit dari kita yang menganggap diri seperti burung yang bersayap lengkap. Bisa terbang (baca : hidup dan bekerja ) sendiri tanpa ketergantungan pada orang lain. Padahal, meminjam apa yang pernah ditulis Luciano de Crescendo, kita semua sebenarnya lebih mirip dengan burung yang bersayap sebelah. Dan hanya bisa terbang kalau mau berpelukanerat-erat bersama orang lain.

Anda boleh berpendapat lain, namun pengalaman, pergaulan dan bacaan saya menunjukkan dukungan yang amat kuat terhadap pengandaian burung bersayap sebelah terakhir.
Di perusahaan, hampir tidak pernah saya bertemu pemimpin berhasil tanpa kemampuan bekerja sama dengan orang lain. Di keluarga, tidak pernah saya temukan keluarga bahagia tanpa kesediaan sengaja untuk ‘berpelukan’ dengan anggota keluarga yang lain. Di tingkat pemimpin negara, orang sehebat Nelson Mandela dan Kim Dae Jung bahkan mau berpelukan bersama orang yang dulu pernah menyiksanya.
Lebih-lebih kalau kegiatan berpelukan ini dilakukan dengan penuhcinta. Ia tidak saja merubah sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin, mentransformasikan kegagalan menjadi keberhasilan, namun juga membuat semuanya tampak indah dan menyenangkan. Makanya, penulis buku Chicken Soup For The Couple Soul mengemukakan, cinta adalah rahmat Tuhan yang terbesar.

Demikian besarnya makna dan dampak cinta, sampai-sampai ia tidak bisa dibandingkan dengan apapun.Rugi besarlah manusia yang selama hidupnya tidak pernah mengenal cinta. Ia seperti pendaki gunung yang tidak pernah sampai di puncak gunung. Capek, lelah, penuh perjuangan namun sia-sia.

Ini semua, mendidik saya untuk hidup dengan pelukan cinta.
Di pagi hari ketika baru bangun dan membuka jendela, saya senantiasa berterimakasih akan pagi yang indah. Dan mencari-cari lambang cinta yang bisa saya peluk. Entah itu pohon bonsai di halaman rumah, ikan koi di kolam, atau suara anak yang rajin menonton film kartun. Begitu keluar dari kamar tidur, akan indah sekali hidup ini rasanya kalau saya mencium anak, atau istri. Melihat burung gereja yang memakan nasiyang sengaja diletakkam di pinggir kali, juga menghasilkan pelukancinta tersendiri. Demikian juga dengan di kantor, godaan memang ada banyak sekali. Dari marah, stres, frustrasi, egois sampai dengan nafsu untuk memecat orang.

Namun, begitu saya ingat karyawan dan karyawati bawah yang bekerja penuh ketulusan, dan menghitung jumlah perut yang tergantung pada kelangsungan hidup perusahaan, energi pelukan cinta entah datang dari mana.

Kembali ke pengandaian awal tentang burung dengan sebelah sayap, manusia tidak ada yang sempurna. Kita selalu lebih di sini dan kurang di situ. Atau sebaliknya. Kesombongan atau keyakinan berlebihan yang menganggap kita bisa sukses sendiri tanpa bantuan orang lain, hanya akan membuat kita bernasib sama dengan burung yang bersayap sebelah, namun memaksa diri untuk terbang.

Sepintar dan sehebat apapun kita, tetap kita hanya akan memiliki sebelah sayap, makanya kita saling “berpelukan”

 
15 Comments

Posted by on July 10, 2008 in Copy Paste doang

 

Tags:

15 responses to “Burung sayap sebelah

  1. wennyaulia

    July 11, 2008 at 3:05 am

    berpelukaaaaannn…
    *teletubbies mode on

    hush..!!!😀

     
  2. Menik

    July 11, 2008 at 2:11 pm

    ikut berpelukan… sama wenny aja..

    pakde ga boleh ikut😛

    ini dah dipeluk sama raras kok😀

     
  3. Jiban

    July 11, 2008 at 2:16 pm

    pantes teletubbies juga berpelukan…

    kok malah teletubbies tow..
    wong ini crita spongebob kok😆

     
  4. Jiban

    July 11, 2008 at 2:18 pm

    komen serius ah…

    setuju banget, dan aku benar-benar merasakan hal itu didunia kerja, walaupun aku masih newbie di dunia kerja, karena massa kerjaku masih pendek. Namun sayap sebelah itu tadi memang benar-benar terjadi didunia nyata, di dunia kerja…

    yup..
    bener mas.. dimanapun kita, posisi apapun kita..
    pasti ada saja yg tidak sesuai dengan keinginan kita..
    ada saja org yg tidak suka sama kita, atau kita tdk suka sama dia..

     
  5. achoey sang khilaf

    July 12, 2008 at 2:01 am

    kita buka sosok yang sangat kuat
    hinga tak butuh siapa pun
    kita adalah mahluk sosial
    dan untuk itu kita mesti memeluk hati semuanya
    dalam cinta
    dalam kebersamaan yang mendamaikan😀

    yup.. setuju sobat..😀

     
  6. achoey sang khilaf

    July 12, 2008 at 2:02 am

    Undangan ngisi komentar di http://www.miejanda.co.cc/?page_id=6

    undangan dah diihadiri..😀 selamat… dan menurut saya lebih simple
    karena menggunakan co.cc

     
  7. baguz

    July 12, 2008 at 3:15 am

    wah boleh tuh dicoba beneran
    berpelukan dengan temen2 kantor (tapi khususon karo cewek2 doang)
    he he he.., asyiikkk

    *oleh2 wis entek,, gawe intip dewe waelah.., rasane bedo sithik…

    dasar…
    wegah bikin intip.. gk enak, mending sing gratis :d

     
  8. realylife

    July 12, 2008 at 10:44 am

    setuju sekali , manusia emang diciptakan untuk saling berdampingan dengan yang lain

    yup.. bener sobat

     
  9. masmoemet

    July 13, 2008 at 8:45 am

    ikutan mbok wen … eh … ga boleh ya ??? ya wiz … liat aja deh …

    **
    karena cinta kita ada:mrgreen:

    jgn.. jgn ngikut.. ntar digodam lho..😀

     
  10. heryazwan

    July 14, 2008 at 3:59 am

    wah, harus sering2 mosting yang gini2, mas. biarpun artikelnya udah lama dan pernah kubaca, tapi tetap aktual.
    membuat kita selalu diingatkan…

    Insya Allah.. semoga berguna buat diri saya sendiri khususnya,
    dan hadirin pendengar Pembaca pada umumnya..😀

     
  11. yu2n

    July 14, 2008 at 12:31 pm

    iya..:) bener banget.. (Sepintar dan sehebat apapun kita, tetap kita hanya akan memiliki sebelah sayap, makanya kita saling “berpelukan”).

    jadi inget sebuah quote : “kita masing-masing hanya malaikat bersayap satu, dan hanya bisa terbang bila saling berpelukan”🙂

     
  12. edratna

    July 23, 2008 at 9:47 am

    Dalam pengalamanku bekerja selama 27 tahun lebih, sebenarnya orang yang berhasil adalah yang bisa bekerja dalam tim, bisa mendorong teman-teman untuk berbuat sesuatu, memberian ide…..dan keberhasilan kita adalah karena bisa menggerakkan tim untuk berprestasi, tak ada karena hasil keringat kita sendiri.

     
  13. satya sembiring

    August 15, 2008 at 6:02 am

    tidak ada yg cocok menurut versi kita.
    kalo bukan kita yang menyesuaikan diri
    kalo suka gonta ganti kerja atau istri hanya buang buang waktu saja.
    dan tidak akan ketemu sampai yg benar benar cocok

     
  14. missjutek

    August 26, 2008 at 10:01 am

    merasa tertohok…

    *sering kali putus hubungan dengan alasan ga cocok.. sungguh sangat egois diri ini..😦

    untungnya kalo di dunia kerja masih bisa adaptasi… masih bisa berpelukan… jadi masih bisa terbang bersama…

     
  15. simbok ida

    October 14, 2008 at 2:22 pm

    maturnuwun bojoku jadi ora cepet nesu masalah gaweaan

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: