RSS

Kemiskinan yang membunuh..

17 Mar
laparMengikuti tulisan mbak Ratna tentang Kemiskinan yang memaparkan Masyarakat yang hidup di bawah kolong jembatan Kali Ciliwung, Jakarta. yang menjaring sayuran dari kali tersebut, Bukan untuk pakan ternak. Tapi untuk dimasak dan dimakan bersama para tetangga! Masya Allah..
Plus tulisan kang mendoan di Arep mangan apa jajal, yang mengatakan bahwa sekarang ini harga kebutuhan semakin gila, shg kerupuk, tahu dan tempe yang seharusnya menjadi makanan alternatif malah menjadi makanan pokok.
Ternyata… memang kemiskinan itu Absolut dan mampu membunuh.
berikut paparan dari Editorial media indonesia.

SEORANG ibu yang sedang hamil tujuh bulan meninggal dunia bersama anaknya yang berusia lima tahun. Mereka meregang nyawa di rumah mereka yang terletak di sebuah sudut Kota Makassar.
Kematian istri dan anak dari keluarga penarik becak di Makassar ini semula dianggap sebagai tragedi kemanusiaan biasa. Tetapi kemudian menjadi luar biasa ketika diketahui bahwa kematian mereka disebabkan oleh ketiadaan beras untuk makan.Kemiskinan telah memperoleh kebengisan nyata dalam tragedi Daeng Basse, nama ibu yang meninggal karena ketiadaan apa-apa lagi untuk dimakan itu. Kemiskinan menjadi sangat riil dan tragis. Kemiskinan telah memangsa manusia secara ganas.
Kehidupan dan kematian Daeng Basse seharusnya membuka kesadaran baru tentang kemiskinan di Indonesia. Almarhumah meninggalkan desanya di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, untuk beradu nasib di Makassar, kota yang menjanjikan perbaikan hidup. Di Makassar dia bekerja sebagai tukang cuci, menopang penghasilan suaminya yang berjuang sebagai tukang becak.Penghasilan mereka statis, sedangkan harga-harga terus melonjak naik di luar kontrol bersamaan dengan kebutuhan yang juga meningkat karena keduanya beranak-pinak. Akhirnya tragedi itu datang.
Selama tiga hari mereka tidak makan apa-apa. Sang ibu yang sedang hamil bersama anaknya yang berusia lima tahun meninggal. Anak yang satu lagi harus dilarikan ke rumah sakit dalam keadaan sekarat.Cerita tentang Daeng Basse adalah kisah tentang malapetaka yang amat nyata dan memilukan.
Jutaan manusia Indonesia di kota maupun di desa bergelut dengan kehidupan seperti Daeng Basse. Data Bappenas memperlihatkan 37 juta manusia Indonesia adalah orang miskin.Kemiskinan yang amat nyata dan kejam itu, dalam perspektif bernegara, menjadi suram karena pendekatan-pendekatan agregat. Kemiskinan menjadi relatif ketika didekati secara statistik dan persentase. Padahal kemiskinan itu dilalui dan dialami nyata oleh orang miskin. Bagi mereka, kemiskinan itu absolut.
Pemerintah dan negara merasa bangga ketika dalam angka berhasil mengurangi orang miskin sepersekian persen. Padahal berkurangnya angka kemiskinan tidak mengurangi apa-apa pada hakikat orang-orang yang masih mengalami kemiskinan itu sendiri. Bagi orang-orang miskin, kemiskinan itu tetaplah pergulatan duka yang absolut dan mematikan.Tragedi kemiskinan akan bertambah parah dan luas ketika negara gagal memacu perbaikan mutu kehidupan. Inflasi yang meningkat karena harga barang kebutuhan pokok yang terus meroket menambah tidak saja jumlah orang miskin, tetapi keganasan kemiskinan yang membunuh.
Dengan demikian, kemiskinan harus dianggap sebagai kejahatan karena membunuh warga. Karena itu, negara yang gagal memerangi kemiskinan adalah negara yang jahat karena telah membiarkan warganya dimangsa oleh kemiskinan. Kejahatan negara bertambah hebat ketika kemiskinan warganya disebabkan oleh rezim yang korup.

Tragedi Daeng Basse adalah tragedi cara pandang negara terhadap kemiskinan. Pemerintah lokal Makassar coba membela diri bahwa Daeng Basse tidak meninggal karena kekurangan makan, tetapi karena diare. Kalau Daeng Basse tidak miskin, tentu diare tidak menyebabkan kematian yang memilukan itu.

Jadi, tragedi Daeng Basse harus menjadi pukulan memalukan bagi negara yang terlalu lama tidak mampu memerangi kemiskinan. Kemiskinan itu nyata, ganas, dan absolut. Tidak relatif.

Bagaimana para pemimpin, mantan pemimpin negeriku… Tahukah anda kemiskinan itu Absolut, kemiskinan itu Nyata dan kemiskinan itu membunuh… Malukah anda wahai pemimpin….????

 
5 Comments

Posted by on March 17, 2008 in Tulisanku

 

Tags:

5 responses to “Kemiskinan yang membunuh..

  1. Menik

    March 17, 2008 at 1:28 pm

    sedih banget ya…
    sekarang aja kalo makan cuma pake garem berasa nikmat banget…
    soalnya masih ada yang ga bisa makan sih😦
    wahai para pemimpin bangsa, kembalikan Indonesia ku yang makmur sejahtera dong…

    kata pemimpin bangsa : “Ntar dulu mbak menik.. duitku belum triliunan…”😀

     
  2. Bustamam Ismail

    March 18, 2008 at 1:07 am

    saya do’akan semoga problem bangsa ini mendapatkan jalan keluar yang terbaik, terima kasih anda telah mengunjungi blog saya!!!.

    Amiin… Sama-sama Pak Guru

     
  3. nunik

    March 18, 2008 at 7:40 am

    yap, tidak usah jauh2 untuk melihat kemmiskinan, tengoklanh tetangga kana-kiri kita, betapa banyak yg hidup kekurangan……
    It’s time for us to give….even just a smile

    Setuju, sambil nyanyi..
    Life is short, so learn from your mistake.
    and try to giiiiiive, don’t keep it all inside..


    *Answer lies within – Dream Theatre*

     
  4. toeti

    March 25, 2008 at 8:18 am

    itu dekat dengan rumah kostku.. huk..huk.. menyedihkan memang kehidupan kaum miskin di Makassar

     
  5. safar

    April 13, 2009 at 3:26 am

    kejahatan yang mengenaskan buatku, adalah disaat kemiskinan masih meraja lela dan tidak ada hal yang dapat kita lakukan, namun kejahatan yang paling mengenaskan dan membunuh, ialah ketika pemerintah tidak hanya dapat menangis retoris menyaksikan kemiskinan, dan tidak ada lagi ruang-ruang dialektika rekonstruktif aplikatif mendiskusikan solusi prioritas menghadapi kemiskinan.

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: